Whats?! PUBG Bakal DiHaramkan?

Hai sobat DPIB, anggapan bahwa game membawa pengaruh buruk telah menjadi omongan yang populer di kalangan masyarakat dunia sejak dulu. Seorang senator, Hilary Clinton pernah berpendapat bahwa “bermain game pada masa remaja, sama saja dengan kecanduan merokok”.

Whats?! PUBG Bakal DiHaramkan?

Setiap ada permasalahan dari serangan bersenjata, semua orang kerap menyalahkan video game sebagai akar dari permasalahan pelaku tersebut. Contohnya terlihat pada kasus penembakan Marjory Stoneman Douglas High School di Florida yang telah merenggut nyawa sekitar 17 siswa.

Permainan dengan genre Battle Royale ataupun RPG merupakan game yang menuntut pemain untuk bisa bertahan hidup dengan senjata yang mereka dapatkan. Nah, pembahasan kali ini membahas tentang game yang sedang populer, yaitu PlayerUnknown’s Battlegrounds atau disingkat PUBG, telah menjadi sorotan dunia saat ini.

Game ini dianggap membawa pengaruh buruk yang cukup besar pada pertumbuhan anak-anak dan remaja, contohnya saja India telah melarang PUBG di awal bulan maret, Indonesia dan Malaysia pun berencana untuk menutup akses dari game tersebut.

Dikutip dari DetikNews, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sedang mempertimbangkan tentang pelarangan game PUBG di Indonesia, apakah itu akan mendapat respon baik dari banyak pihak?

Kemkominfo pun menanggapi pertimbangan itu, “MUI lembaga independen. Kalau memang (PUBG) dirasakan merusak, dikaji dulu, dan silahkan diajukan ke Kominfo. Kami siap menindaklanjuti permintaan pemblokirannya,” tanggapan tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan.

Baca Juga:  Garena Free Fire : 11 Tips & Trik, dan Strategi Melawan Musuh (Bagian 2)

Kekerasan Terjadi Karena Game? Alasan yang Logis Kah?

Dilansir pada penelitian ilmuwan AS Whitney DeCamp dan Christopher J. Ferguson telah melakukan riser pada 9000 anak yang masih berstatus SMP dan SMA dari berbagai lapisan masyarakat di Amerika Serikat, tujuan penelitian ini untuk mengungkap apakah benar faktor game membuat anak memiliki kepribadian yang kasar.

Whats?! PUBG Bakal DiHaramkan?

Tak tanggung-tanggung, mereka pun langsung meneliti cara bermain mereka saat disuguhkan game brutal, dan mengamati hubungan dengan keluarganya.

Alhasil, riset itu membuktikan bahwa game bukanlah faktor utama dari kasus kekerasan, justru orang tua dan lingkungan sosialnya yang lebih berpengaruh terhadap kepribadiannya.

Seorang psikolog Jerman, Sarah Mayr pernah menuliskan sebuah catatan bahwa bermain video game tidak selamanya berdampak negatif, ada game yang melatih pemecahan masalah dan ada pula yang mengajarkan kerja sama di antara remaja dari berbagai kelompok sosial.

Berbagai Tanggapan Muncul Di Publik

Beragam tanggapan dari berbagai pihak tentang fatwa haram PUBG sepertinya lebih banyak yang kontra, salah satunya dari gamer PUBG Bandung community. Menurut mereka fatwa ini terlalu berlebihan karena tidak ada gejolak dorongan untuk melakukan penyerangan setelah memainkan game ini.

Baca Juga:  Varian Game iOS yang Anda Bisa Beli Tanpa Budget Besar

Ditambah dengan peraturan pemerintah tentang kepemilikan senjata api yang tak sebebas di Selandia Baru. Eris pun mengatakan bahwa “Kalau di Indonesia sendiri senjata tidak diperjualbelikan secara bebas, beda sama negara lain. Jadi di Indonesia aman, enggak bakalan ada sipil punya senjata gitu”.

Tanggapan lain dari Rolly Edward pada VIVA, Jumat 22 Maret pun mengatakan bahwa “Kalau ada yang berpendapat game seperti PUBG haram, saya rasa sih tidak ya. Itu lebih banyak mendidik. Yang perlu ditekankan itu kendali dari parental, bukan fatwa haramnya. Kalau fatwa haram itu sih ekstrem sekali”.

Menurut pandangan Rolly, PUBG tak melulu bernilai negatif, banyak juga sisi positif dari game ini seperti mengajarkan kerjasama tim, pengambilan keputusan, dan menuntaskan beberapa persoalan lainnya. Dan juga selama player tidak berlebihan dalam bermain game ini maka tidak akan ada masalah, disinilah peran keluarga dan orang sekitar sebagai makhluk sosial yang harus selalu mengingatkan dan diingatkan.

Namun sepertinya MUI tidak ingin memakan waktu yang lama, MUI pun langsung melakukan pertemuan dengan beberapa pihak di antaranya kemkominfo, KPAI, dan beberapa pihak lainnya guna merumuskan tentang game yang berbau kekerasan yang ada di Indonesia.

Baca Juga:  Kamu Pemain PUBG, Free Fire, atau ML coba deh Baca ini dulu

Hasilnya belum bisa dipublikasikan untuk sekarang karena MUI masih harus melakukan beberapa kajian. Saat pak Asrorun berada di kantor pusat MUI, Menteng, Jakarta Pusat Selasa 26 Maret kemarin Beliau berkata bahwa “Soal tindak lanjutnya bentuk fatwa atau penerbitan peraturan undang-undang, tergantung di pendalaman Komisi Fatwa”.

Dan pada akhirnya semua komisi yang hadir pada rapat tersebut sependapat untuk melakukan pembatasan dalam bermain game yang menggunakan sistem IGRS (Indonesia game rating system) seperti yang tertera dalam permen kominfo No 11 tahun 2016 tentang klasifikasi permainan interaktif elektronik.

Eddy Lim selaku Presiden Indonesia E-Sport Association pun mengatakan bahwa setiap pengembang memiliki aturan masing-masing tentang pembatasan ini, namun kebanyakan hanya tidak memberikan imbalan benefit kepada player atau memberi batasan persediaan energi tanpa mematikan game. Ia pun berkata “Sebenarnya sosialisasinya agak kurang. Kalau kita main game seperti PUBG itu disarankan 2-3 jam. Waktu kita main 2-3 jam itu kita dapat banyak benefit. Setelah lebih jadi buang waktu karena tidak dapat apa-apa lagi”

Ya apapun itu keputusannya semoga cepat diambil keputusan dan tidak ada pihak yang dirugikan satu ataupun yang lain. Salam Gamers ya kawan DPIB

Gravatar Image
Saya seseorang yang hobi bermain game, mulai dari game online, game pc, game android, dan game console. Seseorang yang suka bermain internet dan membagikan sesuatu untuk orang lain di blog saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *